Senin, 25 Juli 2011 0 komentar

Uruguay Raja Amerika Selatan



Bukan Brazil, bukan juga Argentina. Melainkan Uruguay yang menjuarai Copa America (CA) 2011. Uruguay sendiri tampil fantastis di final setelah mengalahkan Paraguay 3-0 di stadion El Monumental di Buenos Aires. Gelar juara ini memastika tim Biru Langit menjadi pengoleksi gelar CA terbanyak yaitu 15 kali mengalahkan Argentina yang mengoleksi 14 gelar juara. Perjalanan La Celeste menuju final penuh dengan liku-liku. Di fase grup sendiri, Uruguay sendiri hanya sekali menang melawan Meksiko dan dua kali seri melawan Peru dan Chili. Di perempatfinal Uruguay secara dramatis menghempaskan tuan rumah Argentina lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu berakhir. Di semifinal, mereka bertemu kuda hitam Peru yang menahan seri La Celeste di fase grup. Namun, Luis Suarez menjadi pahlawan dengan menyarangkan dua gol ke gawang tim Peru yang memastikan langkah La Celeste ke final dan bertemu Paraguay.



Uruguay sendiri sebenarnya merupakan tim asal Amerika Selatan pertama yang menjadi juara Piala Dunia (PD) yaitu pada tahun 1930 yang juga merupakan PD edisi pertama ketika menjadi tuan rumah lalu disusul gelar kedua pada tahun 1950 ketika mengalahkan Brazil yang kebetulan adalah tuan rumah. Setelah itu, tim Biru Langit seakan tidur panjang atau tidak lagi menunjukkan geliatnya di pentas dunia. Meskipun tidak lagi menjadi juara dunia, Uruguay masih menunjukkan tajinya di ajang CA dimana La Celeste sebelum menjuarai CA tahun 2011 mengoleksi 14 gelar juara CA bersanding dengan Argentina dan jauh di atas Brazil yang notabene hanya mengoleksi 8 gelar juara.
Uruguay kembali bangkit setelah berhasil mencapai babak semifinal di PD 2010 yang merupakan pencapaian terbaik mereka sejak Piala Dunia 1970 dimana mereka juga mencapai babak 4 besar. Meskipun dikalahkan Jerman di perebutan tempat ketiga, namun pencapaian Uruguay dinilai cukup mengejutkan karena Uruguay sendiri merupakan tim terakhir yang memastikan lolos ke PD 2010 setelah memenangi play-off melawan wakil CONCACAF, Kosta Rika.

Sukses Uruguay sendiri tidak muncul begitu saja. Ada banyak aktor dibalik kesuksesan La Celeste. Antara lain pelatih Oscar Tabarez yang juga sukses membawa Uruguay mencapai babak semifinal PD 2010. Juga ada striker haus gol sekaligus sang playmaker yaitu Diego Forlan dan striker muda asal Liverpool, Luis Suarez yang sekaligus dinobatkan sebagai pemain terbaik sepanjang pagelaran CA. Ditambah lagi sang kapten Diego Lugano yang setia menjaga pertahanan La Celeste.
Tim biru langit pastinya masih akan menghadirkan kejutan-kejutan lainnya terutama jika mereka lolos ke PD 2014 yang juga diselenggarakan di Amerika Selatan tepatnya di Brazil.

Minggu, 24 Juli 2011 0 komentar

Saat Terindah Bersama Kalian




Tak pernah kulupakan
Saat kita saling bercengkerama
Saling berjabat tangan
Meluapkan rasa senang gembira

Sinar mentari menemani kita
Indah menyelimuti alam
Tuk hapuskan duka lara
Saat hati kita muram

Di kala kita bersama (*)
Hal yang indah terasa
Jangan sampai kita...
Terbesit rasa lupa

Reff:
Senyuman..
Yang terpancar dari wajah
Hadirkan...
Sesuatu yang indah

Hanya bersama kalian
Kurasakan damai di sukma
Arungi jalan berliku
Hadapi semua pilu
Sabtu, 23 Juli 2011 0 komentar

Sesuatu Yang Baru

Indahnya malam tak dapat kurasakan
Membuat sukma terasa hampa
Menanti dia yang kini telah kembali
Tuk menemani jiwa raga ini

Sesuatu yang tak bisa
Aku ungkapkan dengan kata-kata
Tiada hasrat tuk berpaling
Saat dia

Reff:
Dia...
Sesuatu yang baru
Yang menghapus segala haru
Dan menemani hatiku

Maafkanlah aku jika tak bisa
Menjadi yang sempurna
Untuk sesuatu yang kuinginkan
Dan ingin kubahagiakan



Jumat, 22 Juli 2011 0 komentar

Kisah Para Perantau

Judul diatas aku pilih untuk menggambarkan teman-temanku yang berasal dari luar kota untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Mereka datang dengan niat untuk menghasilkan karya terbaik di tempat mereka belajar.

Merekalah orang-orang itu:


a. Dany Ezzah Fazwi

He is my best friend ever! bocah begundal kelahiran Lampung, 15 Juli 1994 ini adalah anak Lampung asli walaupun masih ada keturunan Jawa dari bapak dan ibunya. Ia memilih sekolah di Jogja karena ingin belajar mandiri dan ingin melanjutkan kuliahnya di sini.
He is very interesting person with his many experience. Dany adalah anak yang aktif mengikuti organisasi di SMA 11. Ia menjadi Ketua MPK atau Majelis Perwakilan Kelas dan juga ikut Rohis Nurul Ilmi sebagai Sie Kertan. Dany juga aktif di ekstra kurikuler futsal.
Jauh-jauh dari Lampung dengan niat ingin belajar ternyata dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Terbukti ia selalu ranking 1 dari kelas X hingga kelas XI. Dany juga pernah mengikuti kegiatan pertukaran pelajar ke Gorontalo bersama beberapa pelajar dari Yogya lainnya.
Dany juga merupakan motivator bagi teman-temannya terutama bagiku dimana dia selalu memberi semangat dengan kata-kata yang rada nyeleneh lalu dia juga selalu membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan.
Teman selalu ada di saat suka dan duka kan bro! hahaha.
Kalau dia pulang ke Lampung, tak jarang banyak yang nitip oleh-oleh. Buktinya, Dany ketika kembali ke Jogja selalu membawa cindera mata yang nantinya dibagikan untuk teman-temannya.


b. Rizka Tri Mulyani

Gadis kelahiran 12 Februari 1994 ini berasal dari daerah Taliwang, Nusa Tenggara Barat. Rizka juga bercita-cita meneruskan sekolah di Yogyakarta. Sama seperti Dany, Rizka juga datang ke Yogya dengan niat untuk belajar. Rizka termasuk anak yang aktif di organisasi sekolah seperti OSIS dan Rohis Nurul Ilmi. Di OSIS, Rizka menjabat sebagai bendahara sedangkan di Rohis ia masuk dalam Sie Event Organizer atau EO. Rizka pernah menang dalam lomba pidato Agama Islam antar SMA. Orangnya (kata Dany) cerewetnya minta ampun. Rizka dan Dany sendiri sering bersaing sejak kelas X hingga sekarang. Tidak hanya di pelajaran bahkan di luar pelajaran pun mereka tetap saling bersaing. Rizka sendiri ingin meneruskan kuliah di Fakultas Matematika atau Fakultas Biologi di UGM. Rizka terkenal pintar di pelajaran Matematika. Orangnya sendiri sering mengingatkan teman-temannya untuk saling berbuat kebaikan satu sama lain.


c. Imam Saputra

Imam juga berasal dari Lampung sama seperti Dany. Bedanya, Imam berasal dari Lampung Utara sedangkan Dany berasal dari Lampung Tengah.
Cowok kelahiran 12 Juni 1994 ini juga merupakan teman akrabku. Imam sendiri mempunyai keahlian dalam bermain gitar dan memiliki band yang bernama Drizzle. Imam juga meneruskan sekolah di Yogya dengan niat untuk belajar pastinya.
Cowok yang nge-fans dengan gitaris Dream Theater, John Petrucci ini ingin meneruskan sekolah ke Institut Seni Indonesia (ISI). Imam juga terkenal jahil di kalangan teman-teman. Tetapi Imam juga tidak segan untuk membantu temannya jika ia sedang dalam kesulitan.
Aku dan teman-teman menjuluki Imam dan Dany dengan sebutan Duo Lampung!



c. Asniar

Meskipun sekelas cuma satu tahun, tapi aku mengenal Niar setelah kami sama-sama aktif di organisasi Rohis Nurul Ilmi. Niar sendiri berasal dari Kalimantan. Gadis kelahiran 16 Juni 1994 ini datang ke Jogja juga berniat untuk belajar dan ingin meneruskan kuliahnya disini. Ia aktif di beberapa organisasi seperti OSIS dan Rohis. Niar termasuk anak yang istimewa karena memiliki keahlian membaca garis tangan. Aku sendiri sempat mencoba meminta Niar untuk membaca garis tanganku dan ternyata ramalan Niar sesuai dengan apa yang kupikirkan!!!
Di Jogja sendiri Niar tinggal berdua dengan kakaknya di sebuah kontrakan di daerah Minomartani. Niar termasuk orang yang baik dan bisa menjadi teman curhat yang baik. Terbuktinya banyak teman-temanku yang mengutarakan isi hatinya kepada dia.
0 komentar

Keajaiban Piala Dunia (Part 1)

Kebanyakan orang tidak tahu bahwa ajang seperti Piala Dunia ternyata menghadirkan sebuah keajaiaban dan momen-momen penuh kejutan yang tidak bisa diperkirakan. Setelah 80 tahun bergulirnya Piala Dunia, banyak momen magis yang tercipta di turnamen yang berlangsung empat tahun sekali ini. Dari yang biasa, indah, hingga yang kontroversial sekalipun. Banyak aktor dibalik terciptanya momen-momen tersebut yang akan kita lihat sebagai berikut:


a. Hilangnya Magis Ronaldo (Piala Dunia 1998)

Ronaldo yang saat itu merupakan pemain terbaik dunia, dijagokan oleh banyak pihak akan dengan mudah membawa negaranya Brazil menjadi juara Piala Dunia 1998 di Prancis. Hal ini tidak bisa dipungkiri. Sejak fase grup, Ronaldo selalu menjadi inspirator kemenangan Brazil dan mencetak empat gol hingga semifinal. Brazil pun dibawanya ke final setelah mengalahkan Belanda lewat adu penalti untuk berhadapan dengan tuan rumah Prancis. Prediksi siapa yang akan juara mayoritas mengarah ke tim Samba. Selama masih ada Ronaldo, Brazil tidak akan mungkin bisa dihentikan. Namun, siapa yang menyangka. Ronaldo justru tampil buruk di final dan gagal membawa Brazil juara. Ada kabar yang mengatakan bahwa Ronaldo mengalami kejang-kejang hingga akhirnya Ronaldo sempat tidak dimasukkan dalam starting eleven Brazil. Tiba-tiba, hanya beberapa jam sebelum final dimulai, Ronaldo dinyatakan fit dan akhirnya dimasukkan dalam line-up melawan Prancis oleh pelatih Brazil saat itu, Mario Zagallo. Walaupun menjadi pemain terbaik dalam turnamen tersebut, Ronaldo tetap dikritik karena permainan buruknya di final dan sempat dicap sebagai biang kegagalan Brazil meraih juara.


b.
Goal of The Century (Piala Dunia 1986)



Pertandingan Argentina melawan Inggris di perempatfinal Piala Dunia 1986 tak diduga melahirkan dua momen yang pastinya diingat oleh para pecinta sepakbola di seluruh dunia. Yang pertama adalah gol Tangan Tuhan Diego Maradona lalu yang kedua adalah "Gol Abad ini" yang juga dicetak oleh Maradona. Gol kedua Argentina ini memperlihatkan kelincahan seorang Maradona meliuk-liuk melewati hadangan para punggawa The Three Lions. Menggiring bola dari tengah lapangan, pemain berjuluk El Diego ini melewati enam pemain Inggris termasuk kiper Peter Shilton. Ia melewati Peter Beardsley, Peter Reid, lalu melewati Terry Butcher sebanyak dua kali, Terry Fenwick, dan yang terakhir melewati Peter Shilton sebelum mencetak gol. FIFA pun menganugerahkan gol ini menjadi "Gol Abad Ini" sekaligus gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.


c. From Hero to Zero (Piala Dunia 1994)

Siapa yang tak mengenal Roberto Baggio? Pemain yang terkenal dengan rambut kuncir kudanya ini termasuk striker yang tajam dan haus gol di jamannya. Namun pemain seperti Baggio pernah juga mengalami nasib tidak beruntung. Ini terjadi di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Baggio menjadi pahlawan Italia dari babak perdelapanfinal hingga melaju ke final lewat gol-golnya ke gawang Nigeria, Spanyol, dan kuda hitam Bulgaria. Aksinya kembali ditunggu di final dimana Il Nerazzuri bertemu tim Samba Brazil. Baggio sendiri bermain tidak seperti biasanya karena mengalami masalah pada hamstring. Final pun berakhir dengan skor kacamata hingga babak kedua extra time dan harus dilanjutkan dengan adu penalti untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Piala Dunia. Italia sendiri sempat gagal di dua kesempatan setelah tendangan Franco Baresi melambung di atas mistar gawang dan tendangan Daniel Massaro yang berhasil ditepis kiper Brazil, Claudio Taffarel. Brazil di atas angin setelah penalti sang kapten Dunga berhasil masuk. Baggio menjadi penendang kelima Italia. Tak disangka-sangka ternyata tendangan Baggio melambung di atas mistar gawang dan akhirnya memastikan Brazil juara Piala Dunia untuk keempat kalinya. Baggio sendiri sempat dicap sebagai biang keladi kegagalan Italia di final akibat gagalnya dia mengeksekusi penalti.



 
;